15 Juni 2025 Viral Lansia Naik Eskalator Mati di Halte Cipulir

Viral Lansia Naik Eskalator Mati di Halte Cipulir

Sebuah peristiwa mengejutkan kembali mengguncang masyarakat Jakarta. Seorang lansia meninggal dunia setelah mengalami insiden fatal di eskalator Halte Bus Transjakarta Cipulir, Jakarta Selatan. Kejadian tersebut viral di media sosial, memicu kecaman publik serta seruan agar pihak terkait segera membenahi fasilitas umum.

Lansia Naik Eskalator

Banyak warganet membagikan video yang memperlihatkan detik-detik ketika lansia itu terjatuh. Dalam sekejap, suasana halte yang sebelumnya tenang berubah menjadi panik. Beberapa penumpang segera berlari menghampiri korban dan mencoba memberikan pertolongan. Namun, upaya tersebut gagal menyelamatkan nyawanya.

Kronologi Kejadian di Pagi Hari

Insiden itu terjadi pada pagi hari, sekitar pukul 07.15 WIB. Saat itu, halte sudah dipadati penumpang yang hendak memulai aktivitas. Lansia berusia sekitar 70 tahun tersebut terlihat memasuki halte dengan langkah perlahan. Ia mengenakan pakaian sederhana dan membawa tas kecil.

Meski banyak orang mengira ia akan memilih tangga biasa atau lift, ia justru berjalan menuju eskalator. Beberapa saksi mata menyatakan bahwa lansia tersebut tampak ragu saat menginjakkan kaki pertama ke anak tangga bergerak. Namun, tidak ada satu pun petugas yang mendampinginya.

Saat eskalator bergerak naik, tubuh lansia itu mulai oleng. Ia terlihat berusaha menjaga keseimbangan, tetapi beberapa detik kemudian ia terjatuh ke belakang. Kepala korban terbentur keras, hingga menyebabkan cedera parah yang kemudian merenggut nyawanya.

Respons Warga Sekitar dan Petugas

Para penumpang langsung bereaksi cepat. Beberapa orang berteriak, sementara yang lain mencoba menghentikan eskalator secara manual. Namun, upaya itu terlambat. Salah seorang petugas halte baru datang beberapa menit setelah kejadian, dan ia langsung menghubungi ambulans.

Sayangnya, tim medis yang tiba di lokasi tidak berhasil menyelamatkan korban. Mereka menyatakan korban telah meninggal dunia akibat luka parah di kepala. Petugas lalu mengevakuasi jenazah ke RSUD terdekat untuk penanganan lebih lanjut.

Keluarga Korban Tampil ke Publik

Beberapa jam setelah kejadian, pihak keluarga korban mendatangi rumah sakit. Mereka mengaku sangat terpukul dan menyayangkan kurangnya perhatian dari pihak Transjakarta terhadap keselamatan pengguna lanjut usia.

Putra korban, yang tidak mau disebut namanya, mengungkapkan bahwa ibunya masih sehat dan rutin bepergian menggunakan transportasi umum. Namun, ia menegaskan bahwa ibunya tidak pernah terbiasa menggunakan eskalator. Ia menyalahkan pihak pengelola halte yang gagal menyediakan pendampingan dan petunjuk yang jelas.

Transjakarta Buka Suara

Menanggapi insiden ini, pihak Transjakarta segera menggelar konferensi pers. Direktur Operasional Transjakarta menyampaikan duka mendalam atas kejadian tersebut. Ia juga berjanji akan meninjau ulang prosedur keselamatan pengguna, khususnya lansia dan penyandang disabilitas.

Selain itu, pihaknya akan mempercepat pemasangan lift di halte-halte yang belum memiliki fasilitas ramah lansia. Ia mengakui bahwa proyek renovasi beberapa halte masih berjalan, tetapi menegaskan bahwa keselamatan pengguna tetap menjadi prioritas.

Seruan dari Komunitas Transportasi

Tak hanya keluarga korban, berbagai komunitas transportasi dan pengamat publik pun angkat bicara. Mereka menilai insiden ini sebagai sinyal kuat bahwa pemerintah belum sepenuhnya memikirkan kebutuhan kelompok rentan.

Koalisi Transportasi Aman dan Nyaman (KTAN) bahkan menyebut bahwa insiden ini bisa dihindari. Dalam pernyataannya, mereka menekankan pentingnya edukasi penggunaan eskalator serta keberadaan petugas yang siap mendampingi lansia. KTAN juga mengusulkan agar Transjakarta menggelar pelatihan rutin bagi pegawai untuk menangani kondisi darurat seperti ini.

Netizen Desak Audit Fasilitas Umum

Di media sosial, tagar #EskalatorCipulir dan #FasilitasRamahLansia langsung trending. Ribuan pengguna Twitter dan Instagram menyerukan agar pemerintah Jakarta melakukan audit menyeluruh terhadap halte Transjakarta, stasiun, dan terminal umum.

Mereka menilai banyak fasilitas umum di ibu kota hanya memperhatikan desain modern, tanpa mempertimbangkan aksesibilitas. Beberapa warganet juga mengunggah foto eskalator yang sering rusak, minim petunjuk penggunaan, atau tidak dilengkapi tombol darurat yang mudah dijangkau.

Pemerintah Provinsi DKI Turun Tangan

Gubernur Jakarta langsung meminta Dinas Perhubungan mengevaluasi manajemen halte-halte strategis. Ia memerintahkan pemasangan kamera pengawas tambahan, peningkatan jumlah petugas, serta pemasangan rambu petunjuk penggunaan eskalator dalam berbagai bahasa.

Ia juga meminta seluruh kepala terminal dan pengelola stasiun memperhatikan kelompok lansia, anak-anak, dan difabel dalam rancangan operasional mereka. Menurutnya, keberpihakan terhadap kelompok rentan menjadi indikator utama kemajuan suatu kota.

Keamanan Eskalator, Bukan Sekadar Teknologi

Pakar transportasi, Dr. Aldi Rachmat dari Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa eskalator memang berteknologi tinggi, tetapi tetap membutuhkan pengawasan manusia. Ia menyoroti fakta bahwa banyak korban kecelakaan eskalator berasal dari kelompok lansia.

Menurutnya, teknologi tanpa pendekatan manusia akan menimbulkan risiko baru. Ia menyarankan agar halte menyediakan jalur terpisah khusus untuk lansia dan memastikan petugas selalu siaga saat jam sibuk.

Penutup: Tragedi yang Harus Jadi Pelajaran

Kematian seorang lansia di eskalator Halte Cipulir bukan sekadar insiden biasa. Tragedi ini menggambarkan celah besar dalam sistem transportasi publik kita.

Pihak berwenang tidak boleh menunggu korban lain untuk bertindak. Masyarakat menanti perubahan nyata, bukan janji kosong. Dengan tindakan konkret, kota Jakarta bisa menjadi tempat yang lebih manusiawi bagi semua kalangan—termasuk mereka yang paling rentan.

Baca Juga: Penjelasan Jusuf Kalla soal 4 Pulau yang Harusnya Milik Aceh

13 tanggapan untuk “Viral Lansia Naik Eskalator Mati di Halte Cipulir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *